aku memang kembali bersamanya. rasa bahagia itu memang sempat tercipta. tapi ternyata rasa sakit itu justru datang dan lebih sakit. bersamanya dengannya memang yang aku inginkan. tapi kenapa aku harus merasakan sakitnya lagi? apa mungkin ini yang namanya "karma"? Tuhan kenapa hidupku serumit ini.
sejak kembali kepadanya, statusku tidak diakui didepan teman-temannya. aku masih memaklumi itu karena dia beralasan untuk tidak menyakiti mantan kekasihnya yang waktu itu masih temanku dan masih satu lingkup karena kami masih sekolah. waktu pun berlalu begitu cepat, saat kelulusan sekolah menengah atas semakin dekat, dia yang mencoba-coba mencari pekerjaan sambil menyiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi akhirnya diterima di sebuah rumah sakit. aku ikut senang waktu itu, meskipun saat itu aku belum mendapatkan pekerjaan, tapi aku selalu ingin menyuportnya atas apapun yang dia kerjakan. dan dia akhirnya juga diterima di sebuah universitas swasta yang cukup "elite". semua menambah rasa banggaku kepadanya.
semenjak dia bekerja, dia memang tidak punya banyak waktu untukku, dan aku mencoba memahaminya. aku belajar dari kesalahanku agar dia tidak merasa di kekang dan hubungan ini bisa bertahan lebih lama. itu yang ada dipikiranku saat itu. aku memang tidak pernah tahu dengan pasti apa yang dia lakukan dibelakangku. tapi aku sering mendapat kabar bahwa dia sedang dekat dengan rekan kerjanya. awalnya aku tidak percaya dan menganggapnya sebagai angin lalu saja. dan aku juga tidak berani membahasnya dengannya aku mencegah agar tidak terjadi pertengkaran antara aku dengannya. tapi kabar itu semakin kuat, akupun mulai mencari kebenarannya. ada saja info tentang mereka entah itu dari teman-teman yang dekat dengannya atau dari status-status yang dibuat oleh si-perempuan dari jejaring sosial yang semakin menguatkan kebenaran kabar itu.
akhirnya akupun memberanikan diri untuk bertanya baik-baik kepadanya. setelah aku bertanya kepadanya, jawaban yang aku dapat malah idak jelas. dia menjadi sangat marah dan justru menganggapku pencemburu dan suka berfikiran negatif terhadapnya. padahal awalnya aku hanya bertanya kepadanya tidak memiliki maksud apa-apa dan dengan nada yang biasa-biasa saja. tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan semarah itu padaku. pertengkaran pun semakin sering terjadi. dia tidak terima dengan pertanyaanku waktu dan terus saja menuduhku berfikiran buruk tentangnya. sungguh aku semakin tidak mengerti dengannya. akhirnya aku memutuskan untuk tidak pernah membahasnya lagi demi menghindari pertengkaran itu. meskipun aku semakin tahu bahwa kabar itu memang benar. sudahlah Allah Maha tahu. pikirku saat itu.
hari-hari awal dia menghadapi ospek di universitas barunya. dia semakin jarang memberi kabar, dan akupun hanya bisa mengirimkannya sms untuk tidak lupa makan dan perhatian-perhatian lain kepadanya meskipun dia jarang sekali membalasnya tapi sekali lagi aku akan mencoba untuk mengerti keadaannya. sampai akhirnya saat itu, entah dimana hatinya saat itu dia terus saja menggodaku dengan berkata bahwa dia ingin selingkuh.. lucu memang.. tapi ternyata dibalik itu ada maksud darinya. dia mengakui padaku bahwa dia menyukai seseorang perempuan yang dia temui di kampusnya. dia bilang perempuan itu cantik, ramah, dan kalem sepertiku. dia juga bercerita bahwa dia sudah mendapatkan nomer hape perempuan itu dan sudah berhubungan dengannya. sungguh ini sebenarnya apa maksudnya Tuhan?? sakit sekali rasanya. aku memang menghargai kejujurannya. tapi sakit itu membuatku semakin merasa aku sudah ingin menyudahi semuanya.
ya, dan akhirnya pertengkaran itu dimulai lagi. dan lebih parah bahkan. sampai akhirnya dia meminta untuk istirahat dan menginstropeksi diri. dan aku menyetujuinya karena aku sendiri juga butuh waktu untuk berfikir dan menenangkan pikiranku. aku capek sekali menghadapi perselisihan-perselisihan yang sering terjadi di antara aku dan dia. dan 3 hari pun berlalu, dia akhirnya menghubungiku dan menanyakan kabarku. aku pikir dia akan merubah sikapnya dan meminta maaf kepadaku. tapi ternyata, dia memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. entah alasannya apa. tapi saat itu aku sudah tidak punya daya untuk mempertahankan hubungan seperti itu dan akupun mengiyakan keputusannya itu.
sulit sekali berada di posisi seperti itu. hanya 3 bulan kebersamaan itu. dan semua lagi-lagi harus berakhir dengan cara yang menyedihkan seperti itu. tidak ada yang indah memang dalam sebuah perpisahan. tapi setiap kejadian yang aku lewati dengannya dari sebelumnya dan 3 bulan selanjutnya itu membuatku belajar tentang banyak hal.
bahwa dalam perasaan cinta, seharusnya tidak egois, lebih bisa menghargai dan memahami keadaan pasangan, lebih percaya dan menjaga hati pasangannya serta menyeimbangkan antara hati (perasaan) dan logika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar